Berita

Bisa Kok Jadi Peneliti Perempuan Sukses di Indonesia! Menurut Ahli, Gini Caranya Gali Potensi

×

Bisa Kok Jadi Peneliti Perempuan Sukses di Indonesia! Menurut Ahli, Gini Caranya Gali Potensi

Share this article


Peringati Hari Kebangkitan Nasional 2024, L’Oreal menegaskan komitmennya untuk mendukung perempuan Indonesia berinovasi di bidang pendidikan dan penelitian melalui acara talkshow Beauty That Moves: Women in Science yang diselenggarakan Rabu (22/5). Empat alumni inspiratif program L’Oréal-UNESCO For Women in Science dipertemukan.

Mereka adalah pemenang pertama dari Indonesia untuk program L’Oréal-UNESCO For Women in Science, yaitu Dr. Ines Irene Caterina Atmosukarto, Prof. Dr. Fenny Martha Dwivany selaku Guru Besar Institut Teknologi Bandung serta Board of Jury L’Oréal-UNESCO For Women in Science. Ada pula Dr. Noryawati Mulyono S. Si, Founder Biopac.id dan Dr. Pietradewi Hartrianti, Dekan School of Life Sciences di Indonesia International Institute for Life-Sciences dan pemenang program L’Oréal-UNESCO For Women in Science 2023.

Dalam acara tersebut, mereka berbagi pengalaman inspiratif dan tips sukses menjadi perempuan bekerja di bidang sains. Yuk cari tahu selengkapnya, Beauties!

4 Hal Penting untuk Peneliti Perempuan

L’Oreal Beauty That Moves: Women in Science/Foto: Foto: Dok. Loreal/ Fausta Bayu

Dalam talkshow-nya, Dr. Ines ungkapkan 4 hal penting yang harus dipraktikan seorang peneliti perempuan. Pertama adalah komunikasi. Bekerja di bidang sains melibatkan banyak orang, termasuk masyarakat. Sebab itu, kemampuan komunikasi untuk mengutarakan maksud dan tujuan penelitian secara jelas dan bisa diterima audiens menjadi penting.

Kedua, kolaborasi untuk mencapai tujuan penelitian. Ketiga, bidang sains memiliki banyak opsi karier yang bisa dieksplorasi sehingga tidak linear. Terakhir adalah harus bisa melihat peluang. Kepercayaan diri dan keberanian jadi bekal penting untuk maju.


Penelitian untuk Buat Kebijakan
L'Oreal Beauty That Moves: Women in Science

L’Oreal Beauty That Moves: Women in Science/ Foto: Dok. Loreal/Fausta Bayu

Kabar baik buatmu pecinta traveling, menjadi seorang peneliti memungkinkanmu untuk ke luar negeri lho! Dalam rangka konferensi, misalnya. Namun perlu diingat, sebelum mendapat kesempatan itu, kamu harus melalui segala tantangan selama bekerja demi cetak track-record gemilang. 

Dr. Ines dan Prof. Fenny mengakui jika tantangan itu sendiri membuat pekerjaannya menarik. Contohnya, penerapan science based policy (kebijakan berbasis sains) di Indonesia yang memiliki tantangannya tersendiri karena melibatkan pemerintahan. Bagaimanapun, ketika pemerintah membuat kebijakan yang didukung penelitian, maka kebijakannya pun akan lebih efektif, efisien, dan tentunya, bisa bermanfaat bagi masyarakat.

“Kalau [penelitiannya] gol, dampaknya luar biasa” kata Prof. Fenny. Sebab itu, menjadi seorang peneliti juga membutuhkan kegigihan dan konsistensi.

 


Kolaborasi untuk Buat Ekosistem
L'Oreal Beauty That Moves: Women in Science

L’Oreal Beauty That Moves: Women in Science/ Foto: Foto: Dok. Loreal/Fausta Bayu

Dr. Ines menjelaskan lebih lanjut bahwa penelitian tidak terbatas di kampus saja. “Sekarang bisa ke policy, bisa ke industri, bisa buka usaha sendiri, bisa masuk ke perusahaan,” katanya. Contoh nyatanya seperti Dr. Noryawati yang tak hanya bergelut di sains, tapi juga menantang diri sebagai entrepreneur. 

Peneliti juga profesi yang akan selalu dibutuhkan dan punya prospek baik di masa depan. Jika Indonesia fokus Research and Development (RnD), maka potensi kemajuan bangsa akan semakin besar dan pastinya, akan dibutuhkan lebih banyak ahli untuk mendukung kemajuannya.

Sebagai informasi, RnD menjadi penting untuk mematenkan hasil penelitian, Beauties. Saat sudah punya paten, produk bisa diproduksi berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti Indonesia.

“RnD itu dikerjainnya di lembaga research sama akademisi universitas. Nanti perusahaan atau industri tinggal ambil,” sambung Prof. Fenny. “Jadi dibikin ekosistem”.

Tentu hasil ini perlu didukung dengan pendanaan yang cukup serta kolaborasi. 


Networking
L'Oreal Beauty That Moves: Women in Science

ikri Alhabsie; Dr. Ines Irene Caterina Atmosukarto; Prof. Dr. Herawati Sudoyo; Prof. Dr. Fenny Martha Dwivany; Dr. Pietradewi Hartrianti; Melanie Masriel/Foto: Dok. Loreal/Fausta Bayu

Oleh karena kolaborasi jadi signifikan untuk capai hasil yang diinginkan, networking tak boleh terlewatkan saat bekerja di bidang sains. “Zaman sekarang kita harus interdisipliner,” tutur Ines. 

Bahkan networking ini bisa kamu lakukan kapan pun asalkan mau mengambil peluang. Terlebih ketika digitalisasi memudahkanmu untuk terkoneksi lintas global. 

Cara paling sederhana adalah dengan membina hubungan baik dengan dosen pembimbing dan universitas, bahkan setelah lulus kuliah sekalipun. Dosen memiliki pengalaman serta kerabat di berbagai institusi sehingga mereka dapat membantumu untuk mengembangkan kemampuan. 

Mengingat pentingnya kolaborasi ini pula, L’Oreal selama 20 tahun mempererat networking para peneliti perempuan Indonesia melalui L’Oreal-UNESCO For Women in Science (FWIS). “Saat ini kami telah memiliki 71 orang pemenang program di tingkat nasional dan 5 perwakilan Indonesia yang mendapatkan penghargaan di tingkat internasional. Sepanjang itu, kami telah berkolaborasi dengan 31 universitas dan berbagai institusi,” ujar Fikri Alhabsie selaku Director of Corporate Responsibility, L’Oréal Indonesia. 

“Kami berkomitmen untuk terus menjangkau lebih banyak lagi penerima manfaat  dengan satu misi utama yaitu menghadirkan harapan dan akses ke bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan”.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di lumpkinsjail? Yuk gabung ke komunitas pembaca lumpkinsjail Lumpkinsjail.org. Caranya DAFTAR DI SINI!



(dmh/dmh)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *