Berita

Benarkah Perselingkuhan Sering Terjadi pada Pasangan yang Hubungannya Bahagia?

×

Benarkah Perselingkuhan Sering Terjadi pada Pasangan yang Hubungannya Bahagia?

Share this article


Mendapatkan pasangan yang bisa membuat diri kita menjadi bahagia adalah suatu keberuntungan dalam hubungan berumah tangga. Namun, bagaimana jika di balik hubungan yang bahagia itu ternyata pasangan kita menyimpan satu rahasia besar yang tidak ingin diketahui oleh semua orang termasuk pasangannya sendiri seperti perselingkuhan? Tentu hal ini akan sangat menyakitkan.

Perselingkuhan sering kali dikaitkan dengan ketidakbahagiaan dalam hubungan. Namun, benarkah pasangan yang hubungannya bahagia juga bisa mengalami kasus perselingkuhan? Menurut beberapa sumber, para ahli mengungkapkan bahwa perselingkuhan juga bisa terjadi pada pasangan yang terlihat bahagia atau bersikeras bahwa hubungan mereka bahagia dan memiliki komunikasi yang baik.





Benarkah perselingkuhan sering terjadi pada pasangan yang hubungannya bahagia?/Foto: Freepik/@tirachardz

Lebih lanjut, melansir dari Elevate Counseling, dalam sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa sekitar sepertiga orang pernah berselingkuh dari pasangannya, baik secara emosional, fisik, atau keduanya. Selain itu, sekitar separuh orang yang pernah menjalin hubungan monogami melaporkan pernah diselingkuhi. Inilah mengapa pernikahan yang baik sekali pun belum tentu menjamin terhadap perselingkuhan.

Ada beberapa faktor yang membuat pasangan berselingkuh. Dalam hubungan heteroseksual, pria cenderung lebih mudah berselingkuh dibandingkan perempuan. Hal ini karena mereka cenderung suka mencari kepuasan seks dan perhatian. Sedangkan, jika dalam hal ini, perempuan yang lebih dahulu berselingkuh, sering kali hal tersebut disebabkan oleh upaya untuk membangun keintiman emosional. 

Lantas, apa yang membuat seorang pasangan berselingkuh meskipun dalam hubungan yang bahagia? Merangkum dari beberapa sumber, berikut faktor-faktor yang membuat pasangan berselingkuh meskipun memiliki hubungan yang bahagia. Yuk, simak!

Mencari Kebaruan

Benarkah perselingkuhan sering terjadi pada pasangan yang hubungannya bahagia?/Foto: Freepik/@stefamerpik

Pada sebagian orang, berkomitmen pada satu pasangan atau pada pernikahan bukanlah hal yang mudah sekali pun mereka menjalani hubungan yang bahagia. Sebab, sisi lain dari komitmen adalah dinamikanya bisa menjadi basi. Sehingga sangat mudah untuk membuat mereka jatuh ke dalam kebiasaan yang sama.

Terutama jika pasangan tersebut merupakan dua orang yang sama-sama sibuk dan tidak punya waktu untuk mencurahkan energi emosional ke dalam dinamika mereka. Akibatnya, rasa bosan menjadi mendominasi seiring berjalannya waktu. Faktor inilah yang sering kali menjadi titik awal seorang pasangan merasa ingin mencari kebaruan terutama dalam hal kenyamanan.

Namun sayangnya, kebanyakan dari mereka justru mencari hal tersebut pada diri orang lain yang bukan pasangannya dengan berselingkuh alih-alih mengatasi kebosanan tersebut dengan mencari suasana baru bersama pasangannya. Karena bagi mereka perselingkuhan bisa memberikan sensasi petualangan romansa baru di luar hubungan mereka.

Kebutuhan yang Belum Terpenuhi

Benarkah perselingkuhan sering terjadi pada pasangan yang hubungannya bahagia?/Foto: Freepik/@freepik

Sebagai suami-istri, komunikasi sangat penting. Sebahagia apa pun hubungannya, jika tidak memiliki komunikasi yang baik maka akan sering terjadi salah paham dan sulit untuk mengungkapkan perasaan atau bahkan sekadar mengutarakan apa yang dibutuhkan satu sama lain.

Oleh karena itu, kebanyakan orang yang berselingkuh meskipun hubungan dengan pasangannya bahagia sering kali disebabkan oleh alasan bahwa pasangan selingkuhannya bisa memberikan sesuatu yang terbaik dari pasangannya saat ini.




Benarkah perselingkuhan sering terjadi pada pasangan yang hubungannya bahagia?
Benarkah perselingkuhan sering terjadi pada pasangan yang hubungannya bahagia?/Foto: Freepik/@freepik

Motif-motif seperti ini jarang disadari oleh kebanyakan pasangan yang sudah berumah tangga dan kemungkinan dari mereka tidak selalu sengaja untuk mencarinya. Sehingga ketika ada godaan dan kesempatan yang datang mereka akan mengambil kesempatan tersebut untuk mencobanya. Namun, jika percobaan tersebut gagal mereka sering kali menyebutnya sebagai “khilaf”.

Oleh karena itu, dalam hal ini, selalu komunikasikan apa saja kebutuhan bagimu yang belum bisa dipenuhi oleh pasanganmu. Namun, ada saatnya kamu harus bisa menerima kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi oleh pasanganmu jika hal tersebut berkaitan dengan fisik atau emosional. Sebab, pernikahan bukan hanya tentang memberi atau memenuhi kepuasan semata, tetapi juga tentang menerima, menghormati, dan menghargai.


Menganggap Perselingkuhan Menarik

Benarkah perselingkuhan sering terjadi pada pasangan yang hubungannya bahagia?/Foto: Freepik/@gpointstudio

Beberapa orang yang terlibat dalam perselingkuhan menganggapnya sebagai hal yang menarik dan bisa menantang diri untuk tidak ketahuan oleh pasangannya. Melansir dari Betterhelp, kebanyakan orang yang berselingkuh mengaku senang dengan sensasi selingkuh atau potensi ketahuan.

Sehingga bagi mereka, melakukan sesuatu yang salah bisa terlihat menarik dan bahkan bisa menjadi sesuatu yang membuat mereka merasa tidak puas dan ingin terus melakukannya. Dalam hal ini, biasanya terjadi pada orang yang memiliki “penyakit” selingkuh kronis (orang yang berulang kali selingkuh dalam suatu hubungan).




Benarkah perselingkuhan sering terjadi pada pasangan yang hubungannya bahagia?
Benarkah perselingkuhan sering terjadi pada pasangan yang hubungannya bahagia?/Foto: Freepik/@freepik

Meskipun demikian, ada juga orang yang memang tidak bisa berhenti untuk berselingkuh sekali pun sudah ketahuan karena bagi mereka perselingkuhan sudah seperti kebiasaan yang mendarah daging. Sehingga jika tidak melakukannya maka hasrat dalam dirinya merasa ada yang belum terpenuhi. Orang dengan kategori ini adalah orang yang mengesampingkan moral mereka dalam hubungan.

Umumnya, mereka adalah orang yang mengalami kecanduan seksual (hiperseksual), sifat narsistik, pengalaman masa kecil yang traumatis, rendahnya harga diri, atau masalah kesehatan mental yang membuat mereka mencari kepuasan atau merasa dihargai dengan cara ini.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di lumpkinsjail? Yuk gabung ke komunitas pembaca lumpkinsjail, Lumpkinsjail.org.


(naq/naq)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *